Mengungkap Misteri Seribu Dinar - Kisah Inspiratif

Mengungkap Misteri Seribu Dinar
Suatu saat datang seorang lelaki mengadukan sebuah permasalahan kepada Qadhi lyas. Lelaki tersebut kemudian melaporkan kasusnya,

“Saya ingin berangkat haji, Setelah semua harta saya hitung, dikurangi untuk keperluan haji, masih ada sisa uang seribu dinar. Sebelum berangkat, uang tersebut aku titipkan kepada seorang teman yang menurut anggapanku bisa dipercaya. Nanti akan aku ambil setelah kembali dari tanah suci. Namun, sekembalinya dari Mekah, amu mendatanginya untuk meminta uang seribu dinar yang aku titipkan. Dia tidak mengakui bahkan mengingkari kalau aku pernah menitipkan sesuatu kepadanya. “ 

Qadhi iyas bertanya, 

“Kamu memiliki jaminan atau saksi tidak?” 

“Tidak, tetapi aku benar-benar jujur.” jawab lelaki tersebut 

“Kamu benar-benar sembrono. Kembalilah ke sini tiga hari lagi! Dan rahasiakan hal ini!” tandas Qadhi iyas. 

Qadhi iyas kemudian memanggil orang yang dititipi uang. Qadhi berkata kepadanya, “Aku memiliki harta titipan, harta anak yatim dan harta sitaan yang jumlahnya sangat banyak. Aku ingin menitipkan semuanya kepada orang yang bisa dipercaya. Akan ku beriimbalan harta yang sangat besar. Nilainya lebih dari seratus ribu dinar. Aku telah bertanya kepada orang-orang bijak di daerah ini, dan mereka semua menyebut satu nama. Yaitu kamu. Kamu adalah lelaki yang bisa dipercaya. Belum Pernah ada orang yang melaporkan kejahatanmu. Apakah kamu bersedia menerima amanah ini?" 

Orang tersebut sangat bahagia. Dia berkata, “ini adalah kehormatan bagiku. Saya menerima amanah ini.” 

“Persiapkanlah tempat penyimpanan dan kembalilah ke sini setelah satu minggu! Akan aku hitung dan siapkan dulu.” kata Qadhi lyas. 

Orang tadi merasakan sangat bahagia. Dia berencana menjadikan upah dari menerima titipan harta itu untuk mengembangkan bisnisnya. Setelah lewat 3 hari, datanglah lelaki pemilik seribu dinar kepada Qadhi lyas. 

“Datanglah kepada temanmu dan tagihlah. Jika dia tetap mengingkari, katakan padanya, bahwa engkau akan melaporkan kasus ini kepada Qadhi lyas. Barangkali dia bisa memberi jalan keluar.” kata Qadhi lyas. 

Berangkatlah lelaki tadi menemui temannya dan kembali menagih uang seribu dinar miliknya. Temannya tetap tidak mau mengakui. Akhirnya lelaki itu menyampaikan ancaman sesuai petunjuk qadhi lyas. 

“Jika kamu tetap mengingkari, tiada solusi lain kecuali aku mengadukan kasus ini kepada Qadhi lyas. ” 

Mendengar hal itu, temannya merasa takut. Jika masalah ini sampai terdengar oleh Qadli Iyas rencana kerjasamanya bisa berantakan. Keuntungan besar yang akan dia dapatkan bisa melayang ke orang lain. Dengan terpaksa dia mengatakan kepada pemilik uang itu, 

“Oh, sekarang aku ingat. Kamu pernah menitipkan uang sebelum kamu berangkat haji. Maafkan aku.” 

Dia akhirnya menyerahkan uangnya. Setelah menerima uang, laki-laki itu kembali menemui Qadli Iyas, melaporkan kejadian yang dialaminya. 

Setelah lewat beberapa hari, teman lelaki pemilik seribu dinar telah menyiapkan tempat untuk menaruh harta titipan Qadli lyas. Dia kemudian mendatangi Qadli untuk menyatakan kesiapannya. 

“Tuan, saya sudah menyiapkan tempatnya.” katanya. 

“Kami tidak membutuhkan orang-orang sepertimu. Diberi amanah uang seribu dinar saja kamu berkhianat, bagaimana jika uangnya lebih besar dari itu.” kata Qadli lyas dengan nada keras. 

Orang tersebut akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan Susah.
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==